2 Daerah di Sumut Tertinggi Kasus Gizi Buruk

Berdasarkan prevalensi gizi buruk di Sumatera Utara (Sumut) dari Riset Kesehatan Dasar ( Riskesdas ) 2018 ditemukan dua daerah di Sumut tertinggi kasus gizi buruk yakni di Tapanuli Tengah dan Nias Barat.

Kasus gizi buruk ini dengan rincian kasus gizi buruk tidak seimbangnya berat badan dengan usia anak sebanyak 5,37 persen. Sedangkan kasus gizi buruk tidak seimbangnya berat badan dibandingkan tinggi badan anak ada 4,57 persen.

Dari data Riskesdas itu pula diketahui Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki proporsi prevalensi tertinggi untuk kasus gizi buruk berat badan dibandingkan usia anak sebanyak 10,33 persen dan di Nias Barat sebanyak 12,57 persen. Untuk kasus gizi buruk tidak seimbangnya berat badan dibanding tinggi badan anak tertinggi di Kabupaten Tapanuli Tengah yakni 9,17 persen.

Sementara itu, untuk di Kota Medan sendiri ada 4,8 persen untuk kasus gizi buruk tidak seimbangnya berat badan dibandingkan usia anak dan ada 4,3 persen untuk kasus gizi buruk tidak seimbangnya berat badan dan tinggi badan anak.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Teguh Supriyadi mengatakan kasus gizi buruk mulai menurun namun kurang signifikan. “Sebab masih ditemukan kasus gizi buruk. Bila sudah di angka 0 baru berhasil. Meskipun begitu saat ini kepala desa telah tanggap dalam menangani kasus ini,” katanya, Senin (22/7).

Teguh menuturkan selama ini upaya dari Dinas Kesehatan Sumut bila ditemukannya kasus gizi buruk pada anak langsung ditangani oleh pihak puskesmas. Anak tersebut di rawat dan dikasi makanan bergizi dengan dana desa.

“Kita dari provinsi membantu transport dan bantuan lainnya berbentuk barang seperti makanan dan susu. Sebab kasus gizi buruk yang diperlukan adalah makanan bergizi. Di puskesmas nanti anak akan di cek, dimonitoring terus sampai pulih kembali. Sehingga apabila perlu dirawat atau dirujuk segera dibawa ke rumah sakit biasanya bila ada komplikasi atau anak disertai penyakit lainnya,” sebut Teguh.

Untuk kendala selama ini, sambungnya sering telatnya mendapat penanganan dari pihak kesehatan. Sebab selama ini orang tua tidak terbuka dan rata-rata kurang peduli dengan anaknya. Tiba-tiba anak sudah sakit.

“Umumnya terjadi pada masyarakat yang memiliki kehidupan yang susah jadi ini masalah sosial juga lah. Namun kita dari dinas kesehatan sudah ada akses seperti dana desa dalam penurunan angka gizi buruk di Sumut,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *